[The Chronicles of Akarinawa] story 1.

Sabtu, 22 September 2012




story 1. 

The Wizard, The Sword Master and The Spiritual Archer 

*** 

“… Hosh, hosh…”


“…”


“…”



“Kejar gadis itu! Lebih cepat!”



~ Dimensi Mazurra, 12 Februari 1963. ~

Surai coklatnya berterbangan oleh angin malam yang sedang tertiup sepoi-sepoi. Biner kebiruannya menatap lurus mencari jalan keluar dari ancaman maut. Gadis yang menyandang nama Suzumura itu terus berlari tanpa melihat ke belakang, terus melihat ke depan demi mendapat jalan.


“Kalung amber itu harus diambil!” seru salah satu orang yang masih saja mengejar gadis Suzumura tersebut.


Jelas saja, gadis itu tak mau kalah. Diambilnya tongkat Mikazuki yang dikenal menguat pada waktu malam dengan bulan sabit. Dan yang menjadi keuntungan, bulan sabit tengah menerangi malam dimensi Mazurra yang sunyi.


“Holy Laser!”


Rapalan mantra berbau elemen cahaya itu berhasil menghentikan langkah dua orang pengejar, namun masih tersisa cukup banyak orang yang masih bisa mengejar gadis itu. Bingung harus berbuat apa, dia tetap berlari.


Kalung amber yang menjadi kejaran mereka, mengait di leher sang gadis, bercahaya merespon apa yang terjadi. Entah apa yang bisa dibuat oleh kalung itu, sebuah portal dimensi muncul di tengah jalan. Gadis itu kemudian melihat kesempatan dalam kesempitan yang sekarang ia alami, maka ia meloncat masuk ke dalam portal itu. Dalam waktu yang cepat, portal itu menutup—meninggalkan para pengejar itu merasa kecewa.


***


~ Dimensi Anekouji, 12 Februari 1963. ~

Di sebuah saung kecil bergaya etnis Jepang, dengan danau yang mengaliri semua halaman di rumah besar dengan teratainya yang indah.

Seorang pemuda bersurai hitam legam agak pendek, menatap sosok wanita anggun yang dikenal sebagai Miyuki Sonozaki—istri dari almarhum pemimpin klan Sonozaki saat ini, klan aliran pedang tersohor di Anekouji. “Aku ingin pergi. Aku tak ingin mewarisi klan ini, Ibu!”

Miyuki menatap sedih anak lelaki pertamanya itu, namun dia tahu bahwa dia menginginkan kebebasan. Bukan kedisiplinan ketat yang justru telah membawa pergi ayah dari pemuda berumur enam belas tahun itu, dimana dia mati hanya demi peraturan tradisi klan.

“Jiwa kebebasanmu, harus menjadi resiko yang kau ambil sendiri, Kanata.” Ucap Miyuki, mengelus kepala anaknya itu. Kata-kata itu dengan mudah bisa ditangkap oleh Kanata—nama sang pemuda—bahwa ibunya mengijinkannya untuk pergi.

Kanata memeluk sosok ibunya yang mungkin tak bisa ia temui lagi. “Aku sayang ibu. Titip salam untuk adik, ok?” Air mata sedikit menetes dari mata sang pemuda yang jarang tampak, dan memang perpisahan akan sangat sulit untuk ibu dan anak ini. Namun, keputusannya sudah bulat.

Sebuah lingkaran sihir tercipta di bawah tungkai kaki Kanata, yang dilambangkan dengan bentuk bunga teratai. Lingkaran sihir itu dibuat dari sihir Miyuki, yang dapat membawa Kanata ke dimensi lain. “Tujuanmu tidak jelas, Kanata. Kau harus bisa bertahan hidup disana,”

“Dan berjanjilah pada Ibu, entah kapan waktunya… kau harus kembali ke sini dengan selamat, ya?”

Sosok pemuda yang sangat disayangi oleh Miyuki itu seketika musnah dari Anekouji, membuat air mata Miyuki mengalir di pipinya yang halus. Dan hari itu juga, revolusi terjadi pada klan tersohor itu.

***

~ Dimensi Akarinawa, 12 Februari 1963. ~

Cara mendaratnya sama sekali tidak nyaman. Gadis Suzumura itu menyadari dirinya berada di sebuah reruntuhan gersang dengan sinar matahari yang panasnya tidak bisa ditahan. Tongkat Mikazuki masih dalam genggamannya, dan dia langsung melirik sekitarnya dengan cepat.

“Sudah tidak ada… Syukurlah…” katanya pada diri sendiri, seraya menghembuskan nafas lega. Dia merasa beruntung karena portal itu muncul dan menyelamatkan dirinya dari para pengejar. Dipegangnya kalung amber yang menjadi sasaran mereka, mengecupnya lembut yang merupakan harta berharga dari ibu semata wayangnya.

Gadis itu segera berdiri, lalu membersihkan debu dan kotoran yang siapa tahu menempel di celananya. Biner kebiruannya menatap langit siang yang benar-benar terik sinarnya, mencoba mengenali dimana ia berada sekarang. Tapi ia tak tahu apa-apa tentang tempat ini.

“Ini dimana ya? Entah kenapa asing sekali… Apa jangan-jangan aku di dimensi lain?”

Teori dimensi sangat dipahami oleh gadis Suzumura tersebut, dimana dia juga seorang Dimensional Traveller—orang-orang yang kerjanya adalah berkeliling dimensi. Dia sudah mengelilingi banyak dimensi seorang diri, mencari kenikmatan petualangan.

Mengerti sudah bahwa ia berada di tempat baru, langkah pertama yang ia lakukan adalah jalan-jalan menelusuri tempat ini untuk mencari tahu. Dia mulai melangkahkan tungkai untuk pergi, dengan bekal kemampuan sihir di dalam dirinya dan tongkat Mikazuki andalannya.

Di sepanjang penelusuran, hanya reruntuhan yang bisa dilihat oleh gadis itu, dan perasaan aneh dan tidak enak bisa terasa begitu tajam olehnya. Dia memasang sikap tetap waspada dan siaga, takut ada apa-apa. Tepat sesuai dengan instingnya, seekor makhluk yang ia tak kenal bentuknya tampak di depan matanya.

“Ah… mutan!”

Mutan, nama makhluk itu. Gadis itu memang jarang berhadapan dengan mereka, namun pengetahuan kecilnya saat ia sedang berkelana di dimensi lain membuatnya tahu. Mutan adalah sebutan untuk para monster yang sudah bermutasi gennya, sehingga bentuk mereka menjadi aneh dan kekuatannya melebihi binatang buas, bahkan. Ukuran pun bervariasi.

Diayunkanya tongkat Mikazuki, lalu menatap sang mutan untuk melancarkan serangan.

“Crescent Beam!” sahutnya, dan langsung terapal mantra berupa energi sihir berbentuk bulan sabit yang terlempar bagai shuriken milik ninja ke arah sang mutan.

Namun serangan itu hanya menyebabkan beberapa goresan, bahkan irisan kecil. Karena merasa kurang efektif, gadis itu kembali merapal mantra yang ia ingat, pelajari dan kuasai.

“Holy Judgement!”

Serangan ini lebih mementingkan radius luas serangan ini, dan memang pada dasarnya lebih cocok untuk lawan yang banyak—tapi sepertinya sulit juga untuk menghabisi mutan satu ini. Langsung saja, mutan itu lenyap, walaupun efeknya juga mengenai batu reruntuhan di sekitarnya yang membuatnya langsung lebur berantakan.

Merasa lega mutan itu telah musnah, insting gadis itu kembali merasakan lagi sebuah ancaman. Maka, ia langsung menoleh ke arah insting itu merasakan sambil menyiapkan serangan. “Siapa disana?!”

“Tenang… Aku manusia kok, bukan mutan.”

Seorang pemuda, bersurai coklat tua keluar dari tempat persembunyiannya. Ia membawa panah dan busur di tas panahnya, sudah bisa diduga bahwa dia adalah seorang pemanah. Namun panahnya bukan panah biasa.

"Seorang Spiritual Archer? Apa yang kau lakukan disini, eh?” tanya gadis itu heran, karena tak biasa bisa bertemu dengan golongan pemanah unik ini. Hanya bisa ditemukan di beberapa dimensi tertentu, karena mereka jarang ada.

“Kalau boleh bertanya, aku ingin bertanya hal yang sama,” Pemuda itu menatap sang gadis Suzumura dengan biner kehijauannya. “Dan yah, aku menemukan diriku berada disini secara mendadak.”

“Dan jawabanku sama denganmu.”

Mereka sedikit terkejut satu sama lain karena punya nasib yang sama. Maka, satu fakta terungkap. “Kau seorang Dimensional Traveller!” sahut mereka berdua bersamaan, karena pasti punya pikiran yang sama.

“Jadi… aku sudah berada di sini lebih lama dari kau, kemarin.” Ujar sang pemuda, pada akhirnya mereka berdua malah berdiskusi mengenai keadaan saat ini, tentunya sambil berjalan untuk menghindari para mutan menyerang mereka.

Sang gadis mengangguk. “Aku baru tadi. Kau sudah tahu apa yang terjadi disini? Sepi sekali, kalau diperhatikan,”

“Ah ya, namamu siapa?” sambung gadis Suzumura dengan tujuan mengenal. Tidak ada salahnya toh, mereka juga satu nasib. Dan lagi sesama Dimensional Traveller, jadi hal itu tidak perlu disalahkan.

“Tidak tahu, sayangnya. Namaku Shimotsuki Ryosuke. Aku seorang Spiritual Archer dari klan Shimotsuki… Kau tahu itu dari pakaianku.” Jawab Ryosuke, menunjuk panah yang saat ini ia selempangi lewat tas panahnya.

Gadis Suzumura itu tersenyum kecil sebagai tanda perkenalan yang baik. “Yep, terlihat kok. Dan namaku Suzumura Chielle, salam kenal.”

Mereka berbincang-bincang dengan akrab sementara jalan yang mereka telusuri mentok di depan sebuah menara yang menjulang tinggi, dengan sistem pancaran radio diatasnya. Sepertinya rusak, menurut penglihatan Chielle lebih dalam.

“Ini dimana?” tanya Chielle pada Ryosuke yang sudah berpengalaman sehari di tempat asing ini.

“Menara Akarinawa, seperti kata-kata para warga yang terasingi di gedung sebelah sana. Itu katanya tempat tinggal sementara untuk warga di daerah sini. Lagipula menara itu tidak bisa ditinggali, tidak ada tempatnya.”

Ryosuke mengajak Chielle masuk ke dalam gedung yang ia tunjuk. Chielle mengangguk, lalu mengikuti Ryosuke masuk. Saat mereka berdua masuk ke dalam, Chielle bisa melihat beberapa warga yang berlalu lalang, tiduran, maupun mengobrol biasa.

“Siapa dia?” “Wah, perempuan yang cantik.” “Itu temannya?”

Orang-orang disana berbisik dengan suara yang bisa didengar oleh kedua telinga Chielle. Dia menoleh kepada mereka. “Anu, bisa dijelaskan sekarang aku berada dimana?”

Mereka terdiam, namun sosok seorang pria tua berkacamata memecah keheningan. “Tetua Yamamoto!” sahut mereka terkejut, lalu menepi ke dinding sambil menatap pria tua itu dengan penuh hormat.

“Kau sudah kembali, Shimotsuki-kun?”

Ryosuke mengangguk, namun Tetua Yamamoto justru menaruh perhatian pada sosok Chielle, seorang Wizard yang memang jarang ditemui di Akarinawa, faktanya. Dia menatap Chielle lekat-lekat dengan biner kelabunya.

“Seorang Wizard jarang bisa ditemui disini, dan ini sungguh berkah.” Ucapnya, mengulas senyum terharu yang sepertinya ditujukan pada semua orang di ruangan tersebut.

“…Err.. Aku sendiri tidak mengerti mengapa, Tuan?”

Tetua Yamamoto tersenyum kecil, yang rasanya lebih beda dibanding senyum yang tadi. “Ah, baru ingat. Siapa namamu, nona Wizard?”

“Chielle… Err, Su-Su-Suzumura Chielle.” Jawab Chielle kaku dan terpatah-patah, merasa terdapat rasa bijak dan respek yang tinggi pada sang tetua. Biner kebiruannya menatap sang tetua yang masih tersenyum.

“Suzumura-chan, aku merasa kau membawa suatu perubahan disini… Dan ya, karena sepertinya kau tidak tahu apa-apa, maka akan kujelaskan,”

Sepuluh tahun yang lalu, Akarinawa masih merupakan distrik damai, sejahtera dan makmur. Menara di sebelah gedung ini, yakni Menara Akarinawa yang menjulang tinggi menjadi simbol distrik ini pula. Kami awalnya hidup dengan tentram, tanpa merasakan masalah yang sangat menyulitkan sampai peristiwa yang naas terjadi. Entah apa ini kutukan atau bukan, namun turun setetes hujan dari langit—tapi anehnya, air itu membuat kulit kami melepuh.

Anak-anak yang bermain di taman, mati dengan malang karena satu alasan yang sulit dipercaya. Air hujan itu mengandung asam dengan kadar sangat tinggi yang bisa merusak kulit. Perlahan, air hujan itu mencemari air di Akarinawa, membuat stok air bersih menghilang. Kami mulai menderita, dan merasa kecewa mengenai mengapa hal ini harus terjadi.

Awalnya penderitaan kami hanya sebatas kekecewaan pada hujan asam, namun setelah tiga bulan berlalu—para monster, atau mutan kemudian merusak gedung-gedung di Akarinawa, dengan bantuan hujan asam pula mendadak semua gedung mulai hancur lebur. Penderitaan kami pun menambah dan kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami terpaksa mengungsi di dua gedung terakhir yang masih berdiri kokoh, yakni Menara Akarinawa dan Gedung Pemerintahan Akarinawa.

Tapi, karena perbedaan pendapat terdapat pro dan kontra yang menyebabkan kami saling terpecah belah. Seakan-akan kami bermusuhan, menjadi sebuah affiliasi. Mereka yang mengungsi di Gedung Pemerintahan Akarinawa lebih sering disebut Government Building, sementara kami yang berada di sini disebut Akarinawa Tower. Namun, dari kedua affiliasi ini tidak ada satu pun yang punya pemimpin.

Sampai sekarang, walaupun sepuluh tahun sudah berlalu, tidak ada yang berubah. Kami tetap tak punya pemimpin meskipun permusuhan masih berlangsung. Mutan makin bertambah banyak dan hujan asam kadang turun sangat deras di beberapa hari akhir-akhir ini.


Baik Chielle, maupun Ryosuke hanya bisa tercengang mendengar cerita atau lebih pantas disebut pengakuan mengenai betapa kasar dan menderitanya, apa yang dirasakan oleh warga Akarinawa yang malang…


To Be Continued


========================================================================
Mystical Note!
========================================================================
Akhir-akhir ini setiap kali nulis roleplay atau fic, kata-katanya itu bejibun panjangnya dan sangat absurd isinya. Nulisnya memang terlalu alay memang... Tapi gw tetap puas melihat hasil Story 1 dari fic series terbaru gw (yang harapannya ga bakal hiatus) berjudul The Chronicles of Akarinawa.

Random fact aja, semua judul di blog gw berparodi. Title blog gw memparodikan diri dari The Mystical Archives of Dantalian, sementara judul fic ini berparodikan Narnia. Tambahannya, subjudul story 1 ngikutin film pertama Narnia--The Lion, The Witch and The Wardrobe.

Sekian aja deh. Selamat menikmati, enjoy, kalo ga suka lewat, memang suka typo, dan tunggu update story 2!

========================================================================
Next story on The Chronicles of Akarinawa...
========================================================================

"Suzumura-chan, kau akan jadi pemimpin kami."

"Kau tahu aku ada dimana? Namaku Kanata Sonozaki."

"Terkadang, aku mengingat kenangan indah di rumahku.
Tapi klan Shimotsuki sudah hilang nama."

~ story 2. - Prelude of Glory ~




0 komentar:

Posting Komentar